IDEOLOGI DOMINASI KEKERASAN DI MEDIA PENYIARAN

Kun Wazis

Abstract


Media massa televisi sebagai saluran penyampai segala bentuk pesan kepada khalayak masih menampakkan kekuasaannya. Dominasi acara yang diperoleh melalui politik rating telah melahirkan tayangan-tayangan yang berbau seks dan kekerasan. Produksi makna yang dihadirkan layar kaca itu terus membombardir alam sadar komunikan hingga mengakibatkan khalayak tak berdaya.
Sejumlah kritik terhadap pengelola stasiun televisi terus bermunculan. Bahkan, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sebagai penjaga gawang regulasi kepenyiaran dibuat tak berdaya. Berulang kali, lembaga negara itu mengeluarkan ancaman keras, pengelola media masih tetap saja tidak cemas karena memiliki logika pasar yang jelas. Alasannya, tingkat pemirsa memiliki kuasa untuk mempertahankan menu acara yang mereka nikmati sehari-hari.
Tulisan ini berusaha mendeskripsikan secara kritis tentang realitas tayangan media penyiaran dengan tujuan untuk membangkitkan kesadaran kepada masyarakat bahwa tidak semua tayangan yang hadir di rumah-rumah pemilik “kotak pandora” itu adalah tayangan yang seyogyanya. Bahkan, tayangan-tayangan berbau kekerasan sangat membahayakan bagi pengembangan masyarakat di Indonesia yang beridentitas religius.
Deskripsi ini mengajak pembaca agar memahami realitas tayangan media penyiaran yang tidak mendidik dengan tujuan sebagai titik kesadaran bahwa kita masih harus bekerja keras untuk mengembangkan masyarakat penyiaran agar tetap kritis melihat tayangan. Pandangan kritis ini menjadi penting karena bisa memantik kesadaran untuk bertindak yang seharusnya, bukan hanya senyatanya.
Bermodal pemaknaan terhadap realitas tayangan yang mendidik ini, dapat menjadi sarana berwacana kritis di tengah-tengah masyarakat sehingga ikut memberikan dialog kesadaran bersama warga masyarakat yang sehari-hari memang tidak bisa dilepaskan dari “bacaan” televisi.

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.