POLITIK IDENTITAS MUSLIM URBAN: Menikmati Modernitas Tanpa Menanggalkan Keimanan

M. Khusna Amal

Abstract


Gambaran linier yang selalu menghadapkan Islam vis a vis dengan kapitalisme (ataupun sekularisme) tampaknya semakin usang. Alih-alih Islam dan kapitalisme terus terlibat dalam baku hantam tiada berujung untuk saling menjinakkan, keduanya malahterlihat saling berangkulan. Adalah me-dia baru yang telah menciptakan spacebagi keduanya untuk saling bersinergi dalam kultur yang sinkretis (hybrid). Media baru pula yang sudah ikut andil dalam dekonstruksi sekat-sekat dikotomik antara kedua entitas dengan garis ideologi-politik yang tidak saja berbeda, melainkan juga bertabrakan. Kontradiksi yang telah menfosil dan nyaris tak terjembatani selama puluhan dekade, luruhdalam sentuhan dingin media baru yang bercorak popular. Sinergi antara kedunya terepresentasikancukup baik dalam anekabudaya pop (pop culture) seperti musik, film, novel, sinetron, dan berbagai produk industri budaya massa lainnya.

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.